"sekali lagi kusaksikan riak tawanya, memenuhi seluruh hatiku,
membuncah, sakit, ntah mungkin hati ini terluka disana,
itu tawanya, tawa sahabatku, atau saudariku?
aku pernah melihat titik air di ujung matanya, kala kami berjamaah siang
itu, dan aku melihat kepada siapa tatapan itu ia tujukan, dan nampak jelas
bagiku doa apa yang ia panjatkan.
Doa itu untuknya,
Pada seorang adam yang juga menjadi makmum di hadapannya dan juga
dihadapanku
Pada seorang adam yang dalam diam pun turut kukagumi
Pada seorang adam yang dalam diam pun kuharapkan.
Ada ketidak jujuran kala itu, saat botol kaca itu berputar, dan mengarah
padanya, aku bertanya apakah ia menyukai sang adam, dengan tegas ia menjawab
tidak. Tapi...
Pertanyaan yang sama ia lontarkan padaku, apakah akupun mengaguminya, aku
menjawab ia, tapi ku katakan aku mengagumi yang lainnya. Aku berbohong..
Pada salah seorang saudaraku yang lain, yang mengadu padaku ia menyukai
adam lainnya, cinta dia bilang. Ia mencoba mendekatinya, mencari tahu apakah
hati itu berbalas, hingga yang kutahu ia terluka, ia menangis, dan mencoba
membenci cinta..
Cinta , cinta, cinta
rupa seperti apa dia?
anggun seperti apa parasnya?
atau setajam apa sayatannya?
hingga suatu kali aku tersenyum dengan tingkahnya,
aku benci ketika diamnya,
aku takjub ketika ucapnya,
aku menangis, ya seringkali aku menangis
menangis yang entah untuk apa,
sebait doa yang kuselipkan di ujung bibirku untuknya ,
simbahan air mata dan kadang tawa yang aku adukan pada-Nya,
Tapi sungguh aku tak ingin membuat-Nya cemburu,
tidak, tidak sang pemilik cinta,
aku mengadu, karena hati ini milik-Mu
aku mengadu, karena pasrah ini juga pada-Mu,
Maaf, maafkan aku sahabatku, saudariku
sungguh ikhlas kutitipkan hati ini pada-Nya
tak ada terbersit suatu niat pun untuk menguasainya
Ia tahu, kau tahu dan sang adam pun tahu,
hati itu Ia yang membolak-balikkannya,
aku hanya tak ingin rasakan jiwa yang tak tentram ini, kerap kali
sulit ku bernafas ketika kau menyebut namanya, mengabarkan keadaannya
padaku. Dimana ikhlasku ?
ia menguap, entah kemana, belakangan jelas kulihat seringkali kau menyebut
namanya, semua tentangnya, semua kelebihannya. Bukan dia yang dulu kau sebut
kaku, tanpa ekspresi, dan tanpa rasa.
Kau memang tidak berbohong saudariku, aku yang berbohong dan aku yang
terluka. Kau hanya menunggu rasa itu hadir menjadi cinta, dan keangkuhanmu pada
sang adam larut menjadi takluk.
Hingga akhirnya kuadukan hati ini pada sehelai kertaspun kau takkan tahu,
ia begitu rapi, begitu indah didalam sana,
begitu sulit bahkan untuk kusentuh,
kini ia begitu rapuh, bak porselen
hingga akupun menyesal..
Tapi sungguh aku tak mengerti apa yang kusesalkan,
pertemuan, kebersamaan atau perpisahan,
kediamannya, keangkuhanmu atau kebohonganku,
cukup sulit untuk menatanya,
tapi tetap saja namanya kusebut dalam tiap sujudku pada-Nya
Wahai hatiku jujurlah,
katakan padaku bagaimana keadaanmu,
kau ingin diam mengikhlaskannya, atau apa?
Dan aku, apa yang bisa kulakukan,
berbisik dalam diam ?
menangis dalam hujan ?
atau berteriak dalam riak ombak ?
Begitu yakinkah aku untuk pantas menjadi makmummu duhai kau sang adam.
Begitu banyak tatapan mata yang haram kau tawarkan, dan begitu inginnya aku
mereguknya. Berulang kali kurendahkan pandanganku, berulang kali pula kutahu
kau masih disana memandang, dalam hingga kedasar hati. Kau coba tersenyum
dengan seluruh ketulusan, kau bertanya dengan penuh keingintahuan, kau
memuji dengan penuh keyakinan, atau aku yang menganggapnya dengan penuh
pengharapan.
Kau pernah berdiri disana, mencoba mengulurkan jaketmu untuk melindungiku,
Kau pernah meminjamkan milikmu untuk menghangatkan tidurku, sedangkan kau disana dalam kedinginan
kau pernah duduk dihadapanku mengulangi pertanyaan tentang keinginan
kecilku,
kau pernah duduk disana dengan wajah sayumu saat derita menyeruak dalam
pembaringanku
kau pernah tersenyum disana saat aku terlalu lelah untuk bernafas, dan
memintaku berhenti dengan isyaratmu
kau pernah berdiri disana mengulurkan tangan yang seharusnya kau jaga dari
haram untuk membantuku melewati rintangan itu
kau pernah berdiri dihadapanku, bertingkah seperti anak kecil menggulung
lengan panjangmu melawan permintaanku dengan senyuman jahilmu,
kau pernah disana saat panikku melawan kegelapan,
kau pernah terdiam berdiri dan tersenyum disana, saat jemarimu berayun
rendah ketika waktu kita berakhir
dan kau tetap disana
tetap disana,
tetap meringkuk di sudut hatiku..