Rabu, 21 November 2012

"ku titipkan hati ini padaNya T.T...."



"sekali lagi kusaksikan riak tawanya, memenuhi seluruh hatiku, membuncah, sakit, ntah mungkin hati ini terluka disana,
itu tawanya, tawa sahabatku, atau saudariku?
aku pernah melihat titik air di ujung matanya, kala kami berjamaah siang itu, dan aku melihat kepada siapa tatapan itu ia tujukan, dan nampak jelas bagiku doa apa yang ia panjatkan.

Doa itu untuknya,
Pada seorang adam yang juga menjadi makmum di hadapannya dan juga dihadapanku
Pada seorang adam yang dalam diam pun turut kukagumi
Pada seorang adam yang dalam diam pun kuharapkan. 
Ada ketidak jujuran kala itu, saat botol kaca itu berputar, dan mengarah padanya, aku bertanya apakah ia menyukai sang adam, dengan tegas ia menjawab tidak. Tapi...
Pertanyaan yang sama ia lontarkan padaku, apakah akupun mengaguminya, aku menjawab ia, tapi ku katakan aku mengagumi yang lainnya. Aku berbohong.. 

Pada salah seorang saudaraku yang lain, yang mengadu padaku ia menyukai adam lainnya, cinta dia bilang. Ia mencoba mendekatinya, mencari tahu apakah hati itu berbalas, hingga yang kutahu ia terluka, ia menangis, dan mencoba membenci cinta..

Cinta , cinta, cinta
rupa seperti apa dia?
anggun seperti apa parasnya?
atau setajam apa sayatannya?
hingga suatu kali aku tersenyum dengan tingkahnya,
aku benci ketika diamnya,
aku takjub ketika ucapnya,
aku menangis, ya seringkali aku menangis
menangis yang entah untuk apa,
sebait doa yang kuselipkan di ujung bibirku untuknya ,
simbahan air mata dan kadang tawa yang aku adukan pada-Nya,

Tapi sungguh aku tak ingin membuat-Nya cemburu,
tidak, tidak sang pemilik cinta,
aku mengadu, karena hati ini milik-Mu
aku mengadu, karena pasrah ini juga pada-Mu,

Maaf, maafkan aku sahabatku, saudariku
sungguh ikhlas kutitipkan hati ini pada-Nya
tak ada terbersit suatu niat pun untuk menguasainya
Ia tahu, kau tahu dan sang adam pun tahu,
hati itu Ia yang membolak-balikkannya,

aku hanya tak ingin rasakan jiwa yang tak tentram ini, kerap kali sulit ku bernafas ketika kau menyebut namanya, mengabarkan keadaannya padaku. Dimana ikhlasku ?
ia menguap, entah kemana, belakangan jelas kulihat seringkali kau menyebut namanya, semua tentangnya, semua kelebihannya. Bukan dia yang dulu kau sebut kaku, tanpa ekspresi, dan tanpa rasa.
Kau memang tidak berbohong saudariku, aku yang berbohong dan aku yang terluka. Kau hanya menunggu rasa itu hadir menjadi cinta, dan keangkuhanmu pada sang adam larut menjadi takluk.

Hingga akhirnya kuadukan hati ini pada sehelai kertaspun kau takkan tahu,
ia begitu rapi, begitu indah didalam sana, 
begitu sulit bahkan untuk kusentuh,
kini ia begitu rapuh, bak porselen 
hingga akupun menyesal..

Tapi sungguh aku tak mengerti apa yang kusesalkan,
pertemuan, kebersamaan atau perpisahan,
kediamannya, keangkuhanmu atau kebohonganku,
cukup sulit untuk menatanya, 
tapi tetap saja namanya kusebut dalam tiap sujudku pada-Nya

Wahai hatiku jujurlah,
katakan padaku bagaimana keadaanmu,
kau ingin diam mengikhlaskannya, atau apa?
Dan aku, apa yang bisa kulakukan,
berbisik dalam diam ?
menangis dalam hujan ? 
atau berteriak dalam riak ombak ?

Begitu yakinkah aku untuk pantas menjadi makmummu duhai kau sang adam. Begitu banyak tatapan mata yang haram kau tawarkan, dan begitu inginnya aku mereguknya. Berulang kali kurendahkan pandanganku, berulang kali pula kutahu kau masih disana memandang, dalam hingga kedasar hati. Kau coba tersenyum dengan seluruh ketulusan, kau bertanya dengan penuh keingintahuan, kau memuji dengan penuh keyakinan, atau aku yang menganggapnya dengan penuh pengharapan.

Kau pernah berdiri disana, mencoba mengulurkan jaketmu untuk melindungiku,
Kau pernah meminjamkan milikmu untuk menghangatkan tidurku, sedangkan kau disana dalam kedinginan
kau pernah duduk dihadapanku mengulangi pertanyaan tentang keinginan kecilku,
kau pernah duduk disana dengan wajah sayumu saat derita menyeruak dalam pembaringanku 
kau pernah tersenyum disana saat aku terlalu lelah untuk bernafas, dan memintaku berhenti dengan isyaratmu
kau pernah berdiri disana mengulurkan tangan yang seharusnya kau jaga dari haram untuk membantuku melewati rintangan itu
kau pernah berdiri dihadapanku, bertingkah seperti anak kecil menggulung lengan panjangmu melawan permintaanku dengan senyuman jahilmu,
kau pernah disana saat panikku melawan kegelapan,
kau pernah terdiam berdiri dan tersenyum disana, saat jemarimu berayun rendah ketika waktu kita berakhir
dan kau tetap disana 
tetap disana,
tetap meringkuk di sudut hatiku..



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

mY sisteR b'Day ^_^

mY sisteR b'Day ^_^