
First, let me say appologize to you my King of my family. Yes, you are Papa. Mungkin nanti berulang-ulang maaf ini akan terus meluncur dari bibir saya.
Trimakasih, telah menghadiahi kamar yang begitu indah, lebih besar dari yang dulu, dan tetap sempit dengan barang yang bertambah banyak. Setelah 3 tahun Indah baru sadar, papa benar-benar mendesainnya dengan lembut. Dengan sikap saya yang sulit bangun pagi. Hhhee... kenapa saya baru sadar. Kamar ini dibangun di atas pelapon mungkin tepatnya. Dengan ukuran 4x4 dingding asbes dengan lantai papan. yang ndah suka, ada teras di kamar ini, ukuran 4x2, dengan lantai keramik dan pagar besi minimalis yang cantik. Mungkin menurut beberapa orang ini tidaklah mewah, malah jauh dari biasa. Tapi untuk saya kamar ini segalanya. Dari lantai bawah mulut tangga di ruang dapur, saya ingat harus naik dengan hati-hat karena tangga itu belum ada pegangan. Kini saya bahkan bisa berlari-lari untuk naik dan turun tangga.... Papa rajin menegur karena saat turun tentu saja bikin gaduh seluruh rumah, hhhee...
Kamar ini dengan dinding berwarna biru dan pink kesukaan ndah. Dulu berharap dinding kaca seluruhnya, tapi papa tidak mengizinkannya. Jadilah pintu besar dengan dua jendela di kiri dan kanannya. Eits, pintu ini tanpa pintu, hmm hanya trali. Jadi jangan harap anda bisa bebas tanpa pakaian di kamar ini, hhii. Sengaja memang, awalnya sedikit takut, tapi kini tidak. Kadang trali itu baru ndah tutup jam 3 pagi, jam setengah lima udah di buka lagi ^_^ Lalu apa yang istimewa, berbagai macam tata letak tempat tidur sudah dicoba dan tetap saja, matahari akan menciummu ketika engkau cobacoba bangun siang. Walaupun kadang tidak mempan untuk orang yang insomnia seperti saya, yang baru bisa tidur setelah salat subuh. Bukan, bukan hanya bisa melihat fajar indah ketika pagi menyingsing. Tapi juga Hujan...
Ia sang hujan yang datang bagi saya adalah suatu kehormatan dari Allah untuk menikmatinya dari teras balkon. Dengan catatan tidak ada petir. Huuaaaa, air hujan yang jatuh akan memenuhi teras dan itu hal yang paling saya suka, dari pinggir balkon sebelah kiri, memang tidak ada rumah. Dengan jarak sekitar 10-15 meter rumah penduduk lainnya dibangun stelah sungai kecil. Rumah ini seperti ada dipinggir jurang yang tidak terjal. Ada pepohonan dan halaman rumput liar di sekitarnya. Dan hal indah yang paling saya suka ketika atap-atap rumah dibawah sana ditumpahi air hujan dari celah-celah langit. Indah, benar-benar indah. Tempat ini jauh dari keramaian. Dan saya senang berada di pinggir pagar sambil menengadah ke langit untuk memeluk hujan. Bahkan bersama-sama menitikkan air ke muka bumi.
Saat itu rasanya saya tidak perlu apapun lagi. Fajar, Hujan, pelangi dan Bulan.. Tentu saja setiap bulannya harus menengok langit membawa cahaya bintang dan bulan. Duduk di ujung kursi dan mendengar musik, adalah salah satu tempat nyaman selain tempat tidur.
Pa, mungkin kata-kata ini takkan pernah terucap. Tapi percayalah, kebahagiaan terbesar selain pelukan kasih sayang papa yang telah hilang itu ada dikamar ini. Mungkin nanti ketika Indah tiada lagi dan berada disuatu tempat, hal yang Indah inginkan adalah dibangunkan mentari di awal hari, mencium bau hujan dan merasakannya memeluk Indah di sepanjang dinginnya. Angkuh menatap langit ketika bulan dan bintang diperaduan, bahkan ketika awan gelap berarak sendirian meraba langit. Dan mungkin papa tidak tau, tapi Indah akan bisikkan satu hal. Indah selalu bercerita, berbagi rahasia dan bertegur sapa dengan Allah melalui teras balkon kita. Menceritakan apapun, bertanya tentang semua, menyapa alam dan dia yang disana. Menangis dan menjerit sendiri dimalam kelam atau dilangit hujan. Hanya untuk memberitahu Nya bahwa Indah selalu mengajakNya bicara. Trima kasih untuk tempat itu, tempat kecil yang berarti begitu besar.
Karena Cinta itu seperti Hujan. Ia punya dua wajah Kesedihan dan Kebahagiaan. Karena itu indah ceritakan padaNya tentang Kesedihan agar Indah bisa merasakan Kebahagiaan.
Iloveyoumydear "Papa"



Tidak ada komentar:
Posting Komentar