Kisah I
Dua orang ikhwan teman seperjuangan saat masih kuliah di kampus sudah lama tdk ketemu. Suatu saat mereka ketemu dan saling kangen-kangenan, ngobrol ramai sambil minum kopi disebuah kafe. Awalnya topik yang dibicarakan adalah soal-soal nostalgia jaman kuliah dulu, namun pada akhirnya menyangkut kehidupan mereka sekarang ini.
"Ngomong-ngomong, mengapa sampai sekarang antum belum juga menikah akh?" ujar seorang ikhwan kepada temannya yang sampai sekarang membujang.
"Sejujurnya sampai saat ini ana terus mencari akhwat yang sempurna. Itulah sebabnya ana masih melajang. Dulu ana pernah ta’aruf dengan seorang akhwat cantik yang amat pintar. Ana pikir ini adalah akhwat ideal yang cocok untuk menjadi istri ana. Namun ternyata ketahuan bahwa ia sombong. Ta’aruf kamipun tdk berlanjut ".
"Kemudian setelah itu ana ta’aruf dg seorang akhwat rupawan yang ramah dan dermawan. Pada perjumpaan pertama, ana kasmaran. Hati ana berdesir kencang, inilah akhwat idealku piker ana. Namun ternyata belakangan ana ketahui, ia banyak tingkah dan tidak bertanggung jawab". Ta’arufpun tdk berlanjut.
"Ana terus berupaya mencari. Namun selalu ana temukan kelemahan dan kekurangan pada akhwat yang ana taksir. Sampai pada suatu hari, ana bertemu akhwat ideal yang selama ini ana dambakan. Ia demikian cantik, pintar, baik hati, dermawan, dan suka humor. Ana pikir, inilah pendamping hidup yang dikirim oleh Allah."
"Lantas," sergah temannya yang dari tadi tekun mendengarkan, "Apa yang terjadi? Mengapa antum tidak segera mengkhitbahnya? "
Yang ditanya diam sejenak. Suasana hening. Akhirnya dengan suara lirih, sang ikhwan menjawab, "Baru belakangan ana ketahui bahwa ia juga sedang mencari......ikhwan yang sempurna..!"
Kisah II
Seorang ikhwan yang baru saja menyelesaikan studi S1 nya menghubungi murabbinya, apalagi kalau bukan untuk meminta sang ustad mencarikan jodoh terbaik baginya. Setelah mengikuti tarbiyah selama ini dan tiba saatnya utk menggenapkan dien sang ikhwan ini tidak sekedar ingin menikah, tapi juga siap menikah. Lho, apa bedanya ?.
Ingin menikah bagi seorang ikhwan cenderung bersifat objektif. Artinya ia menginginkan atau menuntut seorang akhwat -yang akan menjadi istrinya nanti -untuk tampil dengan performance dan sifat yang terbaik, menurutnya.
Bisa jadi ia ingin seorang akhwat yang harus cantik, tinggi, pintar masak, cerdas, penyabar dan lain sebagainya. Atau bisa jadi ia menginginkan yang lebih spesifik misalnya seorang dokter, dosen, hafidzah, atau mungkin yang berasal dari suku tertentu. Lebih parah lagi jika �ingin menikah� di sini berarti : ingin menikahi ukhti A, B atau C.
Lalu bagaimana dengan siap menikah? Siap menikah bagi seorang ikhwan berarti kesiapan dari sisi subjektif dirinya. Artinya, ia akan mengukur kemampuan dirinya untuk memimpin rumahtangga, tanpa banyak terpengaruh faktor siapa yang akan mendampinginya. Dengan bahasa lain, dia punya kesimpulan : " yang penting ana harus siap dan baik dulu, siapapun istri ana dan bagaimanapun dia, toh ana juga yang harus membimbingnya ". Yang jenis ini lebih elegan. Artinya siap mental dalam menikah.
Nah kembali ke cerita sang ikhwan yang selain ingin, juga siap untuk menikah. Sang murobby yang dikonfirmasi pun menyambut permintaan ini dengan semangat. Betapa tidak? bukankah menjodohkan adalah sebuah amalan mulia. Apalagi yang dijodohkan adalah ikhwan dan akhwat yang masing-masing mempunyai misi dan visi untuk dakwah.
Maka dimulailah proyek perjodohan yang indah dan terjaga oleh sang murobby. Dari mulai tukar biodata sampai ta�aruf belum terlihat ada masalah. Namun ketika sang murobby mengkonfirmasi kesediaan sang akhwat, ternyata sang akhwat menolak. Entah sang akhwat punya alasan apa, yang jelas ia hanya bisa beralasan pada sang murrobby : "Afwan ustad, saya masih mau melanjutkan sekolah dulu.."
Terpukulah hati sang ikhwan mendengar jawaban sang akhwat. Pikirnya dalam hati, mengapa kalau masih mau sekolah ia bersedia memberikan biodatanya dan bahkan sampai proses taaruf ? Sang murrobby pun merasakan hal yang sama. Ada apa gerangan di balik penolakan ini ?.
Sang ikhwan tetap beritikad untuk menggenapkan dien. Sang murrobby pun kembali dengan senang hati membantunya. Dilalui proses dari awal sebagaimana yang pertama tadi. Namun sayang seribu sayang. Kasus penolakan yang pertama kembali terulang. Masih dengan alasan yang sama : sang akhwat masih mau melanjutkan sekolah.
Pusing kembali melanda sang ikhwan kita ini. Dicobanya sekian kali untuk berinstropeksi: Adakah yang salah dalam biodatanya ? Atau ada kesalahan kah saat taaruf kemarin ? Ah , rasa-rasanya semuanya begitu lancar, tak ada masalah.
Atau masalah penampilan fisik?. Ah, benarkah itu masih menjadi kriteria yang prinsip di jaman ini?. Sang ikhwan bingung, ia benar-benar belum menemukan jawaban yang tepat atas kasus penolakan dirinya.
Sang murroby tampaknya ikut merasa bertanggung jawab dengan penolakan tersebut. Mungkin karena merasa kasihan dengan dua kali penolakan tersebut, sang murrobby pun berinisiatif untuk ambil langkah yang lain. Kebetulan ia mempunyai adik perempuan yang juga seorang akhwat.
Maka setelah mengadakan briefing yang intensif terhadap sang adik, dimulailah proses perjodohan keduanya. Biodata adik sang murroby pun berpindah ke tangan sang akhi ini. Dengan seksama di baca semua point di dalamnya. Tidak lupa dua lembar foto ukuran post card juga diperhatikan....agak lama.
Sang Murobby yang juga kakak sang akhwat terburu-buru untuk menanyakan kesediaan sang ikhwan untuk meneruskan proses.
"Gimana akh, bersediakah antum melanjutkan proses ini? "
Sang ikhwan bingung bukan kepalang. Ada perasaan kurang sreg dalam dadanya. Lebih-lebih saat melihat dua lembar foto sang akhwat. Diulang-ulang kembali, sama saja. Ada rasa kurang berkenan yang muncul terus menerus dan mengganggu.
"Gimana Akh, sudah siap untuk meneruskan prosesnya ? "
Pertanyaan sang murobby menambah kegalauannya. Keringat dingin mulai menetes dari dahinya. Ia menunduk agak lama.
Sang ikhwan merenung sejenak, berinstropeksi. Sejurus kemudian ia mulai mengangkat kepala. Tersenyum. Baru sekarang ia tahu alasan mengapa dua akhwat yang terdahulu menolak dirinya: kriteria fisik !! Kriteria fisik, kedengarannya memang lucu. Tapi ternyata ia selalu menjadi begitu kontemporer. Selalu saja ada di mana saja dan kapan saja.
"Gimana akh, bisa di jawab sekarang?? "
Dengan sedikit berdehem, sang ikhwan menjawab, "Afwan Ustad, setelah ana pikir-pikir, nampaknya ana masih mau melanjutkan sekolah saja ustad ... !"
Kisah III
Seorang ikhwan yang kuliah di semester akhir berazzam untuk menyempurnakan separuh dien-nya.
Sebagaimana biasa, beliau pun menghubungi ustadnya dan memulai proses dari awal sampai akhirnya tiba saatnya untuk taaruf, yaitu dipertemukan dengan calonnya.
Tibalah hari dan jam yang telah ditentukan, dengan semangat seorang aktivis, beliau datang tepat waktu di sebuah tempat yang telah di janjikan ustad.
Taaruf pun dimulai, sang akhi duduk disebelah murobby, sementara agak jauh di depannya sang akhwat di temani murobbiyahnya dengan posisi duduk menyamping menjauhi sudut pandangan si ikhwan.
Setelah sekian lama berlalu tak ada pembicaraan, sang murobby berbisik pelan pada mad�unya yang malu-malu ini;
"Gimana akhi, sudah lihat akhwatnya belum, sudah mantap apa belum ?"
"Sudah Ustad, saya mantap sekali ustad, akhwatnya yang sebelah kiri itu khan?"
Murobbynya kaget, wajahnya berubah agak kemerahan. " Eh..gimana antum ! yang itu .....istri saya !"
Dua orang ikhwan teman seperjuangan saat masih kuliah di kampus sudah lama tdk ketemu. Suatu saat mereka ketemu dan saling kangen-kangenan, ngobrol ramai sambil minum kopi disebuah kafe. Awalnya topik yang dibicarakan adalah soal-soal nostalgia jaman kuliah dulu, namun pada akhirnya menyangkut kehidupan mereka sekarang ini.
"Ngomong-ngomong, mengapa sampai sekarang antum belum juga menikah akh?" ujar seorang ikhwan kepada temannya yang sampai sekarang membujang.
"Sejujurnya sampai saat ini ana terus mencari akhwat yang sempurna. Itulah sebabnya ana masih melajang. Dulu ana pernah ta’aruf dengan seorang akhwat cantik yang amat pintar. Ana pikir ini adalah akhwat ideal yang cocok untuk menjadi istri ana. Namun ternyata ketahuan bahwa ia sombong. Ta’aruf kamipun tdk berlanjut ".
"Kemudian setelah itu ana ta’aruf dg seorang akhwat rupawan yang ramah dan dermawan. Pada perjumpaan pertama, ana kasmaran. Hati ana berdesir kencang, inilah akhwat idealku piker ana. Namun ternyata belakangan ana ketahui, ia banyak tingkah dan tidak bertanggung jawab". Ta’arufpun tdk berlanjut.
"Ana terus berupaya mencari. Namun selalu ana temukan kelemahan dan kekurangan pada akhwat yang ana taksir. Sampai pada suatu hari, ana bertemu akhwat ideal yang selama ini ana dambakan. Ia demikian cantik, pintar, baik hati, dermawan, dan suka humor. Ana pikir, inilah pendamping hidup yang dikirim oleh Allah."
"Lantas," sergah temannya yang dari tadi tekun mendengarkan, "Apa yang terjadi? Mengapa antum tidak segera mengkhitbahnya? "
Yang ditanya diam sejenak. Suasana hening. Akhirnya dengan suara lirih, sang ikhwan menjawab, "Baru belakangan ana ketahui bahwa ia juga sedang mencari......ikhwan yang sempurna..!"
Kisah II
Seorang ikhwan yang baru saja menyelesaikan studi S1 nya menghubungi murabbinya, apalagi kalau bukan untuk meminta sang ustad mencarikan jodoh terbaik baginya. Setelah mengikuti tarbiyah selama ini dan tiba saatnya utk menggenapkan dien sang ikhwan ini tidak sekedar ingin menikah, tapi juga siap menikah. Lho, apa bedanya ?.
Ingin menikah bagi seorang ikhwan cenderung bersifat objektif. Artinya ia menginginkan atau menuntut seorang akhwat -yang akan menjadi istrinya nanti -untuk tampil dengan performance dan sifat yang terbaik, menurutnya.
Bisa jadi ia ingin seorang akhwat yang harus cantik, tinggi, pintar masak, cerdas, penyabar dan lain sebagainya. Atau bisa jadi ia menginginkan yang lebih spesifik misalnya seorang dokter, dosen, hafidzah, atau mungkin yang berasal dari suku tertentu. Lebih parah lagi jika �ingin menikah� di sini berarti : ingin menikahi ukhti A, B atau C.
Lalu bagaimana dengan siap menikah? Siap menikah bagi seorang ikhwan berarti kesiapan dari sisi subjektif dirinya. Artinya, ia akan mengukur kemampuan dirinya untuk memimpin rumahtangga, tanpa banyak terpengaruh faktor siapa yang akan mendampinginya. Dengan bahasa lain, dia punya kesimpulan : " yang penting ana harus siap dan baik dulu, siapapun istri ana dan bagaimanapun dia, toh ana juga yang harus membimbingnya ". Yang jenis ini lebih elegan. Artinya siap mental dalam menikah.
Nah kembali ke cerita sang ikhwan yang selain ingin, juga siap untuk menikah. Sang murobby yang dikonfirmasi pun menyambut permintaan ini dengan semangat. Betapa tidak? bukankah menjodohkan adalah sebuah amalan mulia. Apalagi yang dijodohkan adalah ikhwan dan akhwat yang masing-masing mempunyai misi dan visi untuk dakwah.
Maka dimulailah proyek perjodohan yang indah dan terjaga oleh sang murobby. Dari mulai tukar biodata sampai ta�aruf belum terlihat ada masalah. Namun ketika sang murobby mengkonfirmasi kesediaan sang akhwat, ternyata sang akhwat menolak. Entah sang akhwat punya alasan apa, yang jelas ia hanya bisa beralasan pada sang murrobby : "Afwan ustad, saya masih mau melanjutkan sekolah dulu.."
Terpukulah hati sang ikhwan mendengar jawaban sang akhwat. Pikirnya dalam hati, mengapa kalau masih mau sekolah ia bersedia memberikan biodatanya dan bahkan sampai proses taaruf ? Sang murrobby pun merasakan hal yang sama. Ada apa gerangan di balik penolakan ini ?.
Sang ikhwan tetap beritikad untuk menggenapkan dien. Sang murrobby pun kembali dengan senang hati membantunya. Dilalui proses dari awal sebagaimana yang pertama tadi. Namun sayang seribu sayang. Kasus penolakan yang pertama kembali terulang. Masih dengan alasan yang sama : sang akhwat masih mau melanjutkan sekolah.
Pusing kembali melanda sang ikhwan kita ini. Dicobanya sekian kali untuk berinstropeksi: Adakah yang salah dalam biodatanya ? Atau ada kesalahan kah saat taaruf kemarin ? Ah , rasa-rasanya semuanya begitu lancar, tak ada masalah.
Atau masalah penampilan fisik?. Ah, benarkah itu masih menjadi kriteria yang prinsip di jaman ini?. Sang ikhwan bingung, ia benar-benar belum menemukan jawaban yang tepat atas kasus penolakan dirinya.
Sang murroby tampaknya ikut merasa bertanggung jawab dengan penolakan tersebut. Mungkin karena merasa kasihan dengan dua kali penolakan tersebut, sang murrobby pun berinisiatif untuk ambil langkah yang lain. Kebetulan ia mempunyai adik perempuan yang juga seorang akhwat.
Maka setelah mengadakan briefing yang intensif terhadap sang adik, dimulailah proses perjodohan keduanya. Biodata adik sang murroby pun berpindah ke tangan sang akhi ini. Dengan seksama di baca semua point di dalamnya. Tidak lupa dua lembar foto ukuran post card juga diperhatikan....agak lama.
Sang Murobby yang juga kakak sang akhwat terburu-buru untuk menanyakan kesediaan sang ikhwan untuk meneruskan proses.
"Gimana akh, bersediakah antum melanjutkan proses ini? "
Sang ikhwan bingung bukan kepalang. Ada perasaan kurang sreg dalam dadanya. Lebih-lebih saat melihat dua lembar foto sang akhwat. Diulang-ulang kembali, sama saja. Ada rasa kurang berkenan yang muncul terus menerus dan mengganggu.
"Gimana Akh, sudah siap untuk meneruskan prosesnya ? "
Pertanyaan sang murobby menambah kegalauannya. Keringat dingin mulai menetes dari dahinya. Ia menunduk agak lama.
Sang ikhwan merenung sejenak, berinstropeksi. Sejurus kemudian ia mulai mengangkat kepala. Tersenyum. Baru sekarang ia tahu alasan mengapa dua akhwat yang terdahulu menolak dirinya: kriteria fisik !! Kriteria fisik, kedengarannya memang lucu. Tapi ternyata ia selalu menjadi begitu kontemporer. Selalu saja ada di mana saja dan kapan saja.
"Gimana akh, bisa di jawab sekarang?? "
Dengan sedikit berdehem, sang ikhwan menjawab, "Afwan Ustad, setelah ana pikir-pikir, nampaknya ana masih mau melanjutkan sekolah saja ustad ... !"
Kisah III
Seorang ikhwan yang kuliah di semester akhir berazzam untuk menyempurnakan separuh dien-nya.
Sebagaimana biasa, beliau pun menghubungi ustadnya dan memulai proses dari awal sampai akhirnya tiba saatnya untuk taaruf, yaitu dipertemukan dengan calonnya.
Tibalah hari dan jam yang telah ditentukan, dengan semangat seorang aktivis, beliau datang tepat waktu di sebuah tempat yang telah di janjikan ustad.
Taaruf pun dimulai, sang akhi duduk disebelah murobby, sementara agak jauh di depannya sang akhwat di temani murobbiyahnya dengan posisi duduk menyamping menjauhi sudut pandangan si ikhwan.
Setelah sekian lama berlalu tak ada pembicaraan, sang murobby berbisik pelan pada mad�unya yang malu-malu ini;
"Gimana akhi, sudah lihat akhwatnya belum, sudah mantap apa belum ?"
"Sudah Ustad, saya mantap sekali ustad, akhwatnya yang sebelah kiri itu khan?"
Murobbynya kaget, wajahnya berubah agak kemerahan. " Eh..gimana antum ! yang itu .....istri saya !"
"ada banyak hal yang bisa kita petik dari kisah diatas,,, keep istiqomah dan menjadi sebenarbenarnya kaffah tidaklah mudah jika hanya diucapkan saja ^_^ "


Tidak ada komentar:
Posting Komentar